Ahok, Jakarta dan pergeseran pola fikir

22 Sep 2016

Ahok, Jakarta dan pergeseran pola fikir.

Cukup Dramatis jalan Ahok untuk kembali melenggang ke ajang kompetisi untuk menjadi orang nomor satu dijakarta.

Dari kisah teman ahok yang begitu semangatnya agar ahok bisa maju independent supaya ahok bisa bebas dari tekanan parpol yang katanya selalu saja ada kepentingan. Dan ketika situasi sempat cukup memanas antara teman ahok dan beberapa parpol yang merasa tidak senang atas sikap teman ahok disocial media.

Berbagai cara dilakukan oleh teman ahok untuk bisa mengumpulkan target KTP yang dibutuhkan untuk bisa menjadikan ahok calon independent di Pilkada DKI Jakarta, yaitu 1 juta KTP.

Kerja keras teman ahok yang tidak jarang diselingi dengan “kalimat-kalimat keras” ahok yang menurut mereka lebih bertujuan untuk membangkitkan semangat para teman ahok cukup membuat teman ahok menjadi tambah kuat agar bisa mengusung gubernur pujaan mereka untuk bisa maju secara merdeka.

Namun apa mau dikata, ketika 1 juta KTP mereka klaim telah terkumpul, dan potong tumpeng sudah dilakukan, serta senyum lebar mereka bisa lepas karena telah bisa mengabulkan apa yang mereka impikan untuk bisa mengusung Ahok sebagai calon independent sudah didepan mata, namun takdir berkata lain. Ahok memutuskan untuk tidak maju independent karena alasan yang ribet dan potensi dipersulit, akhirnya Ahok memutuskan untuk maju lewat Parpol. Dan SATU JUTA KTP, TERKUMPUL SIA-SIA.

Tapi tidak sampai disitu, jiwa setia para teman ahok menganggap ini hanya cobaan bagi kesetiaan mereka untuk ahok. Mereka tidak menyerah dan tetap terus mendukung ahok walau kerja keras mereka seolah tidak berguna dan apa yang ahok katakan ada benarnya.

“Saya pikir kalo maju lewat independent daripada ribet, mending saya maju lewat parpol sajalah…” begitu kira-kira yang ahok katakan. Dan disambut tepuk tangan oleh teman ahok.

Dan tenggelamlah hebohnya Teman Ahok entah kemana, diiringi dengan berbagai berita yang simpang siur tentang mereka yang katanya relawan tapi cukup bergelimang fasilitas untuk itu misi 1 juta KTPnya. Dan nama teman Ahokpun tercoreng diujung kisah tragisnya.

Teman Ahok sudah terkubur dan kini fase baru dari perjalanan ahok menuju pentas DKI 1 dan Nusron wahid yang dipilih sebagai ketua Jurkam untuk ahok di Pilkada DKI nanti. Nusron Wahid yang sempat tenar ketika berkomentar seputar sepak terjang FPI, di salah satu acara di stasiun TV swasta, mungkin telah membuat ahok berfikir bahwa nusron adalah orang yang tepat untuk jurkamnya. Sikap Nusron yang cenderung Moderat dalam berfikir soal agama, dan juga termasuk orang dalam NU, diharapkan bisa membuat ahok semakin mulus menepis isu SARA yang tidak pernah berhenti menghantamnya.

Mungkin Isu SARA bisa agak di redam karena memang Isu tersebut jelas tidak menjadi asset seksi lagi bagi warga modern Jakarta yang memang sudah berubah pola fikirnya soal Agama karena gempuran tayangan televisi saat ini. Sikap apatis dan begitu banyaknya siaran “negative” dari berbagai kalangan agama tertentu, dari ustadz yang Narkoba, Guru ngaji yang Cabul, Ulama beristri 2, wanita berhijab yang jual diri dan berbagai berita yang secara tidak sadar telah mencuci otak kita agar berfikir bahwa ternyata agama bukanlah yang utama, seringnya ibadah tidak menjamin orang baik dan menjalankan perintah agama tidak lantas membuat orang menjadi baik dan benar. Pemikiran kita digeser menjadi hanya berfikir bahwa “seseorang itu yang penting niatnya baik”.

Dan Misi untuk proses penggeseran pemikiran itu telah berhasil!!!.

Ahok yang selalu saja beralibi bahwa dia selalu memiliki niat baik untuk segalanya, baik itu pada kasus sumber waras yang terbukti mampu “melunakkan” KPK karena tidak ditemukannya niat jahat, serta seolah hilangnya pendengaran para pengikutnya ketika ahok berkata kasar didepan mereka dengan dalih untuk kebaikan, sehingga ahok bebas memaki siapapun yang dia inginkan dengan alasan bahwa memimpin Jakarta harus kuat, dan kuat itu dia analogikan dengan arti  bisa kasar bertutur kata.

Para pecinta ahok dan para penduduk Jakarta yang telah bergeser pola fikirnya tentang kebaikan sudah lupa bahwa seharusnya “NIAT YANG BAIK HARUS DILAKUKAN DENGAN CARA-CARA YANG BAIK PULA”. Mereka lupa akan kalimat itu karena hasil “cuci otak” media yang memang sudah terlalu banyak “deterjen liberal” pada tiap tayangan acaranya. Masyarakat Jakarta telah mencapai pada tahap budaya barunya yang lebih mengutamakan logika ketimbang Firman-firman Tuhan mereka.

Ahok jelas mengambil keuntungan besar dalam situasi ini, sikapnya yang memang seringkali memancing perhatian negatif umat, dari soal hewan kurban, pelaksanaan hari besar, sampai menyerempet soal ibadah, yang selalu saja sedikit banyak ada sisi yang dia senggol dan mengusik ketenangan beragama. Namun dia selalu saja bisa melenggang dengan santai karena memang sikap warga Jakarta yang sudah mulai apatis jika menyangkut soal agama, dan kerena memang dibuat seperti demikian adanya. Pemberitaan yang tidak imbang dan sudah tidak netralnya media, membuat ahok makin lupa bahwa Tata Krama dan sopan santun dalam hal apapun, harusnya dia perhatikan dan dia perbaiki di bangsa yang jelas masih memiliki adat Ketimuran ini.

Tapi ahok tidak sedemikian santainya bisa melenggang, dibeberapa tempat dijakarta, dia sudah tidak tenang lagi, dan pada beberapa kesempatan, ahok seringkali menggunakan pengamanan yang cukup besar untuk “melindungi” dirinya dari orang-orang yang secara tidak langsung mungkin merasa “pernah dia sakiti”. Semoga Pada akhirnya nanti akan lebih banyak yang terbuka hati dan fikiran baik yang sebenarnya, bahwa apa yang Ahok lakukan selama ini kepada warga Jakarta sudah kebablasan sikapnya, karena terlalu Percaya diri bahwa apa yang dia lakukan adalah benar dengan segala kekasaran dan arogansinya pada setiap orang yang tidak sejalan dengannya.

Suatu saat nanti rakyat akan sadar akan separuh kalimat yang sengaja dihilangkan oleh media dengan tayangan liberalnya,

Bahwa, bukan “Niat Baik dengan Cara Kasar”lah yang bisa mewujudkan keberhasilan. tapi “Niat Baik dan Cara yang baik” pulalah yang bisa membuat seorang pemimpin berhasil dalam tugasnya dan Dicintai oleh Rakyatnya.

Dan semoga kesadaran itu datang lebih cepat agar kita tidak lagi terlambat seperti sebelumnya…

Semoga Damai Pilkada Jakarta dan Damai Pula Gubernurnya.

Salam Ocehanburung.

Tulisan ini juga saya posting di Blog pribadi saya : ocehanburungdotcom


TAGS Ahok Pilkada DKI 2016 Gubernur DKI Jakarta Pilkada Jakarta Basuki Jakarta Santun Politik santun adat ketimuran


-

Author

Search

Recent Post