Usus Buntu, Pertama dan Terakhir

24 Oct 2016

Usus Buntu, Pertama dan Terakhir

20161018_104156-01

Saya harap ini pengalaman operasi pertama saya dan semoga yang terakhir.

Ga pernah saya sangka sebelumnya kalo rasa sakit pada ulu hati selama ini adalah tanda kalau usus buntu saya bermasalah. Selama ini saya menyangka bahwa sakit pada lintang sekitar ulu hati saya adalah karena maag atau badan saya yang terlalu gemuk, tapi setelah pada kamis pagi perut saya terasa sangat sakit dan perih tidak hilang dengan segala obat sakit perut, ternyata selama ini saya salah.

Tanda sudah ada, tapi saya tidak menyadarinya.

Rasa perih diperut yang membuat saya tidak bisa menegakkan badan mulai terasa sejak bangun tidur, saya menyangka bahwa itu masuk angin karena keinginan buang air besar saja, tapi ketika saya selesai buang air besar, perih itu tidak hilang namun malah bertambah sakit, saya coba menahannya dan meminum obat sakit perut serta membalur perut dengan minyak angin, tapi semua sia-sia, dan akhirnya saya dan istri memutuskan untuk pergi ke rumah sakit pagi itu juga dengan kami masih menggunakan pakaian kerja.

Sampai di IGD rumah sakit BMC, perih pada perut saya makin menjadi, hampir saya menangis karena menahan perihnya, sampai akhirnya dokter datang untuk memeriksa. Sampailah dokter pada saat menekan perut samping kanan saya dan bertanya.

“Ditekan disini sakit??”

Saya jawab spontan “Sakit!”

Dokter melepas stetoskopnya dan bilang.

“Saya curiga suaminya kena Usus buntu ini bu…” kata dia ke istri saya.

“Kita tes darah dulu ya, nanti suster akan kasih obat buat ilangin perihnya sementara….” katanya.

Istri cuma diam. Dan saya masih meringkuk menahan perih perut yang makin menjadi. Tidak berapa lama suster datang dan memasukkan obat lewat dubur saya agar reaksi bisa lebih cepat terasa. Dan benar, beberapa saat kemudian perih itu mulai mereda. Saya mulai bisa berbaring lurus dan  bicara dengan istri jika diharuskan menjalankan operasi usus buntu.

Setelah setengah jam menunggu, hasil lab itu datang dan kita dipanggil oleh dokter.

“Ibu… Bapak… Benar, usus buntu… ini hasil labnya, Leukositnya tinggi, standarnya maksimal adalah 10 ribu, tapi bapak sudah 14.600… ini berarti ada infeksi di dalam, saya rasa usus buntunya sudah meradang dan harus di operasi…”

Saya dan istri kembali diam.

“Ga ada jalan lain dok?? Karena ga lama kita mau ada rencana pergi yang ga mungkin di undur…”

“Saya takut tidak pak, karena mungkin sakitnya kita bisa hilangkan, tapi radangnya jika leukosit sudah setinggi ini, saya khawatir kita ga punya waktu banyak, jika usus buntu sudah pecah, akan sangat bahaya, kalau boleh tau, kapan mau perginya??”

Istri saya yg sedari tadi diam akhirnya bicara.

“Dua minggu lagi dok, berapa lama pemulihan operasinya?? Bisa laparoskopi khan dokter??” Tanya istri bertubi.

“Oh laparos ya, iya bisa, saya akan hubungi dokter joko, nanti beliau yang akan menerangkan ya, seharusnya jika belum pecah, masih bisa dilaparoskopi. Nanti Dokter Joko yang menerangkan ya…”

Tidak menunggu lama, Dokter Joko datang, perawakan yang kalem dan berpengalaman.

images-2

dr. Djoko Judodjoko, SpB. (Google)

“Mana pasiennya?? Bapak??”

Saya mengangguk.

“Kita bicara disini saja ya, saya sudah lihat hasil labnya dan ini harus segera ditangani, jangan sampai terlambat. Tapi sebaiknya saya terangkan dulu soal Usus buntu, apa yang akan saya lakukan dan apa akibatnya jika tidak dilakukan ya…”

Lalu dokter joko mengambil selembar kertas, dia mengilustrasikan perut saya dan usus buntu, tanda2 terkena usus buntu, tahapan proses sampai pada tahap yang saya alami dan akibatnya jika tidak ditangani. Hampir 1 jam beliau menerangkan tentang usus buntu, sementara saya dan istri mendengarkan seperti mahasiswa menyimak kuliah dari dosennya.

20161018_104156-01

(Foto coretan dokter)

“Anak saya 4 bu, 3 diantaranya sudah saya operasi usus buntu semua, saya sudah mengerjakan operasi usus buntu lewat laparokopi ini sejak 2009, maaf kalo saya menerangkannya agak lama dan detil ya pak, karena pasien harus tau soal ini…” kata dokter joko menutup keterangannya.

Intinya, menurut dokter joko ttg usus buntu yang berhasil saya tangkap adalah sebagai berikut :

1. Usus buntu adalah usus yang menjuntai di usus besar kira2 sepanjang 5 cm dengan ada katup sebagai penghubungnya.

2. Selama katup bekerja dengan baik maka tidak ada masalah walau kita makan biji cabai atau biji jambu yang selama ini dimasyarakat di ketahui sebagai penyebab penyakit usus buntu.

3. Penyebab usus buntu adalah bakteri yang terperangkap didalam usus buntu dikarenakan katup saluran yang menghubungkan usus buntu dengan usus besar tidak bekerja dengan baik.

4.  penyebab katup tidak bekerja dengan baik, bisa diakibatkan karena peradangan katup dan inilah awal masalahnya.

5. Katup yang mampat adalah fase final dari sakitnya usus buntu karena usus buntu menjadi bengkak karena tidak adanya saluran pembuang gas dari bakteri yang ada didalam usus buntu.

Ada 4 fase dari sakit usus buntu.

1. Usus buntu normal, bakteri keluar masuk usus buntu dengan lancar.

2. Usus buntu kronis, bakteri sudah berhasil menyebabkan infeksi/radang pada usus buntu namun katup masih bisa berbuka dan tertutup dengan normal. fase inilah yang sebetulnya mengeluarkan tanda-tanda seperti sakit diulu hati saya sejak beberapa bulan lalu namun tidak saya sadari karena rasa sakit bisa hilang jika katup terbuka dan muncul lagi ketika katup usus buntu tertutup.

3. Usus buntu akut. Adalah ketika radang usus buntu sudah menyeluruh sehingga mengganggu katupnya menjadi tidak bisa bekerja (mampat) dan menyebabkan usus buntu membengkak karena gas yang dihasilkan bakteri yang terjebak didalamnya. Kasus Saya sudah sampai pada tahap ini. Karenanya Dokter menyarankan harus segera operasi.

4. Usus buntu pasca Akut (Perfier). Usus buntu sudah pecah dan bakteri jahat yang ada dalam usus buntu sudah menyebar kedalam tubuh. Menurut dokter kemungkinan selamat dari tahap ini hanya 18%.

“Bapak harus saya operasi sebelum 24 jam… saya jadwalkan jam 8 malam nanti, suster nanti akan urus kebutuhannya, sudah tidak bisa menolak pak, bapak harus operasi, InsyaAllah recoverynya tidak lama, saya pernah operasi calon jemaah haji 1 minggu sebelum beliau berangkat, dan Alhamdullilah beliau bisa berangkat…”

Dan, hari itu. Saya menjalaninya. operasi. Yang artinya, Akan ada benda yang masuk kedalam perut saya untuk pertama kalinya.

Jam 8 saya dijemput suster untuk masuk ruang operasi. Kursi roda jadi alat saya menuju kesana.

Setelah masuk dan membuka seluruh pakaian saya, saya dibawa ke-meja operasi. Ada satu dokter yang mengajak saya terus saja mengobrol, dia memperkenalkan sebagai dokter anastesi, dia menyarankan saya untuk tenang dan tidak gugup karena menurut dia operasinya tidak akan saya rasakan. Dia menyuruh saya menghirup O2 dan saat itu juga, saat itu juga saya tidak sadarkan diri. Lampu sorot ruang operasi dan berbagai macam alatnya adalah hal terakhir yang saya lihat sebelum saya tidak sadar karena obat biusnya.

Saya sadar pukul 12.30 dini hari, masih setengah sadar saya ketika dokter memanggil istri saya untuk melihat bahwa suaminya sudah siuman. Dan saya kembali tidak sadar, kemudian Jam 02.00 dini hari saya di bangunkan kembali karena harus dipindah keruang rawat inap. Istri saya sudah menunggu disana.

Pagi harinya, saya baru tau kalau saya masih harus menginap 3 hari lagi karena ada treatment yang harus saya jalani, menurut istri saya yang dia dapat dari dokter, bahwa usus buntu saya sudah bernanah dan sudah menempel di dinding usus besar, sehingga infeksi dikhawatirkan sudah menyebar ke usus besar, untuk antisipasinya maka 3 hari ke depan saya akan di infus dengan antibiotik secara berkala agar bisa menghilangkan kemungkinan penyebaran bakteri lewat radang yang sudah ditularkan nanah yang ada di dinding usus besar tadi.

20161014_110147-01

(Foto hasil operasi. Koleksi pribadi)

Saya cuma bisa diam. Dan makin diam ketika saya sadar kalau saluran buang air kecil saya di pakaikan Kateter untuk buang airnya.

Dan saya juga baru tau jika pasca operasi itu kita tidak boleh makan sebelum kita buang angin. Tenaga hanya dari infus dan 1 sendok air putih setiap 1 jam. Lamanya kita huang angin pasca operasi berbeda-beda, saya, baru buang angin setelah 27 jam pasca operasi.

Buang angin adalah salah satu tanda bahwa usus kita sudah normal dalam melakukan gerakan peristaltik yaitu gerakan yang dibutuhkan agar makanan yang masuk kedalam tubuh kita bisa bergerak dan dicerna dengan baik. Karenanya jangan sekali-kali kita berdusta ketika kita menunggu buang angin pasca operasi. Karena ini sangat kritis.

Pada 2 hari perawatan akhirnya tiba saatnya pelepasan Kateter pada kantung kemih saya. Saat-saat itu adalah saat yang paling tidak mengenakkan dari semua rangkaian operasi usus buntu saya.

Bayangkan, selang dimasukkan sepanjang 15 cm kedalam kandung kemih saya dan sekarang harus dicabut. Rasa ngilu yang cukup lama ketika proses penarikan selang dari kantung kemih saya adalah hal yang membuat saya tidak ingin lagi dan tidak akan lagi untuk operasi.

images-3

(Foto kateter. Google)

Tidak akan lagi!!!

InsyaAllah. Ini pertama dan terakhir. Amiiiiiinn…

“Tanggap usus buntu, hidup sehat dan kenali Gejalanya. Agar kateter tidak sempat masuk ke kandung kemih anda…”

Salam Ocehanburung

Note : tiap operasi besar (bukan hanya operasi usus buntu) yg dilakukan, kemungkinan akan digunakan alat bantu kateter karena pasien tidak diperbolehkan bergerak utk beberapa hari untuk pemulihan luka operasi.

Gambar sebagian dari google.

Potingan ini juga saya tulis di blog pribadi saya ocehanburungdotcom


TAGS Kesehatan Usus buntu Apendix Apendiks Operasi usus buntu Rumah sakit BMC BMC Bogor Medical Centre Rawat Inap Infeksi Radang


-

Author

Search

Recent Post